Kabar gembira dari Pak Slamet

Januari 14, 2009 by

Pagi tadi ditengah keruwetan jalan dan guyuran hujan, seperti biasanya aku melewati jalan yang sama. Masuk kawasan bintaro aku melihat ada yang baru, wow ternyata Bebek Pak Slamet (asli kartasura) buka baru menempati bangunan permanen di samping sambal desa.
Mari kita serbu….

persaingan bebek memanas….

November 12, 2008 by

Kembali lagi bersama butamania, dalam sebuah review terbaru dan terpanas tentang bebek….(gaya penyiar radio zaman SK)

Para buta-buta udah membaca review aku sebelumnya tentang bebek pak slamet yang
ada di radio dalam itu blum? kalo belum, mendingan dibaca dulu yang itu baru
membaca review terpanas ini…Tenang aja, bacanya ngga bakalan menyita waktu lama
kok, sambil nungguin yang masih panas ini jadi hangat…Buat yang udah baca dan
yang ngga sabar menikmati hidangan eh review yang selanjutnya ini,
dipermonggo….

Di review terdahulu aku kan ngasih tahu kalo bebek pak slamet asli solo yang ada
di radio dalam itu yang the best bebek in town, dari mulai gaya berjalannya yang
“koyo macan luwe”, kehalusan kulit yang dipadu dengan lemak yang tipis
didalamnya, kaki jenjang dan leher yang agak panjang…eh..kita lagi ngomongin
bebek yah, kok jd ngelantur sampai kesini sich…

Ok..back to bebek…di review itu aku bilang kalo bebek surabaya (aku pernah
makan di surabayanya langsung sama di daerah arteri PI) dan bebek peking (kalo
ini jelas restoran yang di PI itu lah, kebetulan ada temen yang berbaik hati mau
merayakan ultahnya disitu, jadi kesampaian deh makan bebek peking) kalah rasanya
sama bebek pak slamet asli solo itu….Ternyata dalam perkembangannya,

bebek-bebek itu tidak terima kalo rasa mereka dikalahkan sama bebek pak slamet
asli solo itu. Mereka langsung membuat kolaborasi antara bebek peking dan bebek
surabaya menjadi bebek peking yang ada di bebek item surabaya. Bingung ngga? jadi
begini, di daerah radio dalam itu (persaingan bebek di radio dalam memang
dahsyat) ada lokasi makan yang baru dibuka (aku lupa tanggalnya tp aku inget
pembukaannya itu pas hujan pertama di bulan oktober krmn) namanya TRATORIA
……(aduh..lupa kelanjutannya)..bukan tratoria yg jual pizza and makanan italia
yg ada di PI itu loh…Di lokasi itu banyak pilihan makanan, mulai masakan
padang, kambing muda belia, tengkleng solo, dll dan bebek item surabaya (yang mau
kita omongin niy..) sore itu aku pesan bebek peking di bebek item surabaya….ada dua pilihan antara
bebek super surabaya atau bebek peking surabaya, beda harga 4000. Aku bertanya
sama mbaknya katanya beda ukuran aja, yang bebek peking surabaya lebih gedhe (aku
agak bingung, pekingnya lebih gedhe dr supernya). Akhirnya pesenanku dateng juga,
dan wow…tepong nya gedhe banget….(terjawab sudah peking itu lebih gedhe dr
super), trus disamping bebeknya ada remukan (indonesianya apa yah?), timun
irisan, sama sambal bawang yang pedesnya sama kaya bebek nya pak slamet cuman ini
agak kering alias minyaknya kurang….

eng..ing….eng….perlahan-lahan aku singkap bagian yang menutupi paha mulusnya
bebek peking surabaya ini, begitu tersingkap, terlihatlah daging yang terlihat
lezat….cuilan pertama masuk mulut, dan spontan merasakan…rasanya mirip bebek
pak slamet asli solo….wohoho…perbedaannya adalah bebek ini tidak terlalu
banyak minyaknya, tapi bumbunya juga berasa di dalam daging…great taste,
termasuk sambalnya….Hebatnya lagi, kolaborasi antara peking dan surabaya ini
hanya dibandrol dengan harga Rp. 21.000 satu porsi. Tempat duduknya juga enak
kok, ada yang bentuknya sofa, jadi enaknya kita makan itu dipuluk alias pake
tangan.

Bebek-bebek itu ternyata punya daya saing yang tinggi, bebek peking dan bebek
surabaya berkolaborasi mencoba mengalahkan bebek pak slamet yang asli solo itu,
dan akhirnya tercipta juga rasa yang menyerupai (enak banget maksudnya). Alot
dari bebek surabaya itu bisa dihilangkan oleh bebek peking sedangkan warna pucat
di bebek peking bisa ditutupi oleh hitamnya bebek surabaya….sebauh kolaborasi
yang sangat menawan. Dalam hal ini aku harus mengakui kalau kolaborasi peking dan
surabaya ini menjadi saingan terberat bebek pak slamet asli solo, ditambah lagi
pemilihan lokasi yang sama2 di sebelah kanan jalan (kalau dari arah PI) dengan
penataan cahaya yang cukup menarik, dekat dengan kafe safari, circle K, dapur
cokelat, menambah naik derajat bebek peking item surabaya ini.

Akhir kata, bagi penggemar bebek, anda harus mencobanya, ajak teman2 anda dan
rasakan hawa persaingan bebek di radio dalam dan anda sendiri yang tentukan siapa
pemenangnya….

Mie Ayam Theresia

November 4, 2008 by

Mie…Mie apa namanya gue ga tau, tapi keluarga gue nyebutnya ‘Mie Theresia’ karena letaknya dekat dengan Gereja Theresia. Sebelum gereja, belok kanan, kearah sekolah St. Bellarminus, lurus sampe ketemu pertigaan, nah…dipojokan itu ada gerobak mie ayam yang selalu rame. Konon, menurut mas-mas yang jualan mie, waktu festival jajanan Bango, mereka sampe ngejual 10.000 mangkok dalam 3 hari. Hebat kan?

dsc001191

Semangkok mie ayam di sajiin pake bakso 3 butir, dan pangsit rebus 3 butir. Kebanyakan sih kalo buat gue. So gue slalu pesennya mie bakso aja, no pangsit. Mienya lebar ala mie cina. Bukan yang bulet ala mie kampung, tapi rasanya…..lebih mirip mie kampung, Potongan ayam yang ditabur diatasnya juga lumayan banyak. Of course ga ketinggalan sawi rebus, yang direbusnya terlalu lodoh. Mie ayam ini terbukti enak  soalnya pacar adik saya yang terkenal makannya seperti kucing (sedikit dan acak-acakan), bisa menghabiskan satu mangkok hingga licin tandas, padahal sebelumnya dia abis makan sepiring ketupat sayur.

 

Berhubung gue ngelewatin daerah ini kalo mau ke kantor, gue cukup sering makan mie ini. Lumayan buat sarapan, harganya juga murah, 1 porsinya cuma Rp. 8.000,- doang. Sering juga gue jadi dateng terlambat gara-gara nekat makan mie ini dulu, padahal jam udah mepet…

 

Oh iya, foto mienya kurang cantik, soalnya gue lupa, begitu dianterin sama mas-masnya ke meja, mie itu langsung gue aduk-aduk, ga sabar udah ngiler…..trus gue usaha rapihin lagi, taburin sedikit daun bawang biar cantik, baru jepret, yah….tapi gue bukan Bu Sisca, jadinya ya begini ini (T__T)

Ramen 38

Oktober 27, 2008 by

Para pencinta anime yang kerap kali meneteskan liur mereka saat melihat para tokoh kartun kesayangan menyeruput satu mangkuk besar mie (ramen) yg masih mengepul…

Nah saya dan teman2 saya menemukan sebuah restoran ramen di bilangan blok M & pondok indah…

tepatnya dibilangan melawai – diatas supermarket jepang Kamome & starbucks. Dan di daerah PI – plaza PI disamping pizza hut

Saat saya pertamakali ingin memesan ramen ini, saya khawatir karena melihat mangkuk sajinya seperti mangkuk sayur dirumah… besar dan penuh!

ramen kara....

Akhirnya saat saya mendapatkan pesanan saya, Ramen kara… hm.. saya lupa namanya (lain kali saya akan catat), ternyata mangkuk yang saya dapat tidak besar. Dan saya melihat para pelanggan disana, selain memesan semangkuk ramen, mereka juga memesan nasi chahan (nasi goreng) atau gohan (nasi putih) dan beberapa ‘camilan’ lain… memang ada Ramen dengan mangkuk raksasa, seperti Miso Ramen (tetapi teman wanita saya mampu menghabiskan satu mangkuk ini sendiri).

Ramen yang saya makan itu memang terlihat banyak dan berlebih… namun, saat saya memakan ramen perlahan2… ternyata saya bisa menghabiskan mangkuk ramen saya, dengan tambahan chahan, goiza ayam & jamur tumis (ini paket tambahan… dg menambah Rp.20,000 kita bisa dapat ini semua.. YUMM!).

Rasa ramen yang segar, tidak berat dan berbeda dengan mie biasa membuat saya tidak merasa ‘eneg’ saat menghabiskan ramen dan paketnya… dan tentu saja rasa kenyangnya pas! (atau saya lagi lapar sekali yah saat itu?!? hihihi)

Mungkin bagi yang tidak memakan buta atau babi, harus berhati2 dalam memesan disini… saya memesan ramen halal (artinya tidak memakai babi) – namun ada beberapa ramen yang memang tidak bisa dibuat halal… menurut teman saya yang memakan ramen yang tidak halal, rasanya luar biasa enak… :P

Untuk harga, hm… memang bukan seperti mie ayam pinggir jalan yang dengan uang Rp.10,000 bisa dapat 2 mangkuk… harganya cukup mahal, per mangkuknya sekitar Rp.40,000 – Rp.50,000.

Ada satu ramen andalan mereka yang dijadikan tantangan bagi pecinta pedas.. aji ramen (kl engga salah), nah kita harus menambah Rp.1,000 untuk tiap tingkat kepedasan yang kita minta (diatas tingkat 5)… dan mereka memiliki 20 tingkat… saya pribadi, belum brani mencoba untuk menjawab tantangan ini… dari warnanya saja sudah serem :P

Walaupun sedikit (hiksss) mahal, tetapi rasa dan kepuasannya terbayar dengan ramen ini… patut dicoba lah :)

pssstt… saya bertemu dengan Jamie Aditya saat makan di Ramen 38 yang di melawai :D

Tauge Goreng

Oktober 16, 2008 by

Saya sebenernya gak gitu paham konsep makanan ini. Kenapa pula disebut Toge Goreng, padahal proses memasaknya sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan goreng menggoreng. Toge Goreng adalah sepiring toge rebus yang disajikan dengan mie kampung kuning mengkilat, potongan kentang dan telur rebus, kemudian disiram dengan kuah tauco dan oncom. Penjual makanan semacam ini biasanya bias ditemukan di sepanjang jalan Cisarua menuju Puncak.  Tapi rasanya gak sama dengan Toge Goreng di Jalan Krekot, yang di Pasar Baru.  

 

Yang jual namanya Pak Agus, karena saya blogger amatir, saya lupa tanya sejak kapan dia jualan di gubuk beratap asbes dengan tirai plastic biru ini. Pastinya sejak tahun 80an awal, soalnya para petinggi dikantor saya mulai senang makan disini sejak mereka masih jadi anak baru di Universitas Tarumanegara. Yang pertama kali ajak saya makan disini tuh Bapak Head Engineer, yang hampir selalu memakan 2 1/2 porsi toge goreng, kalau saya sih… cukup dua porsi saja. Enak sih!

Kuahnya manis, pedas, gurih, dan ada aroma khas oncom yang cukup kuat. Sepertinya kualitas  tauco yang dipakai cukup baik, karena gak berbau bahan kimia kayak tauco standard yang label botolnya fotokopian gambar macan itu. Hargan seporsi cukup mahal untuk ukuran tauge goreng, Rp. 10.000. Padahal normalnya cuma sekitar Rp.5.000/ Rp. 6.000.  Porsinya yang ga terlalu besar bikin penasaran untuk tambah satu porsi lagi…Oh ya, lebih enak kalau dimakan dengan emping seukuran piring makan yang juga dijual disana, harga 1 kepingnya kalau tidak salah Rp. 3000,-.

Tiap hari, Pak Agus biasanya menghabiskan sekitar 10Kg Toge. Banyak juga ya…. Ia selalu berdiri dibelakang timbunan toge beruap panas, mengaduk-ngaduk rebusan toge. Anehnya pinggan yang dipakai adalah nampan alumunium bunga2 tipikal rumah tangga jaman dahulu. Saya ingat nenek saya dulu juga punya nampan yang sama.

Sayang, jalanan disitu minus lahan parkir, gubuknya aja berdiri diatas papan yang di konstruksikan di atas saluran air yg cukup lebar. Tapi jangan takut, gak bau kok. Pastikan juga kalau bawa mobil, sebaiknya ada sudah memiliki sim yang di dapatkan secara legal. Sebab, tukang parkirnya, seorang ibu-ibu bertubuh pendek gempal yang galak dan bersuara keras, akan mengarahkan mobil anda sehingga pinggir ban mobil anda hanya berbeda beberapa cm dari bibir got. Maklum, jalanannya sempit, kalau anda parkir terlalu ke tengah, bisa di pisuhin orang se krekot.

 Anyway, buat bagi para pecinta jajanan  sejati, toge goreng yang satu ini perlu dicoba. Rasanya lain daripada yang lain…..

 

 

Bebek Pak Slamet (asli) Solo

Oktober 10, 2008 by

Kalo pembaca jakarta sudah pernah mengunjungi kota solo dan sudah pernah merasakan keempukan bebek serta kedashyatan sambel koreknya bebek pak slamet pasti akan senang membaca tulisan ini.

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –> Yap….bebek pak slamet hadir di Jakarta, tepatnya di daerah Radio Dalam, Jakarta Selatan. Menempati sebuah lahan parkir distro, bebek pak slamet mengembangkan usahanya membuat bebek-bebek kota solo bersaing dengan bebek surabayat dan bebek peking (peking duck) yang sudah lebih eksis di ibukota. Soal harga, bebek utuh satu porsinya dihargai 60ribu lebih (ketauan deh yang nulis ini bukan yang mbayar alias gratissss hehehehe….). Itu sudah termasuk isi perut bebeknya lho…ati, ampela plus usunya yang dililitin dibentuk sate. Kalau mau makan isi kepala alias otaknya, siapin aja martil, karena tengkorak bebek ternyata lebih keras dari tengkorak ayam :)

Saya makan dengan dua teman perempuan, disini terlihat dengan jelas keganasan penggemar bebek. Lihat saja daftar makanan dan minuman yang masuk ke perut kita:

1 ekor utuh bebek

5 porsi nasi

5 porsi sambel korek

1 es jeruk

1 es teh manis

2 botol air mineral

Saya sudah pernah merasakan bebek surabaya dan bebek peking. dari ketiganya, bebek surabaya yang paling alot, paling gampang nyelip di gigi. kemudian bebek peking dan yang paling empuk adalah bebek pak slamet yang asli solo. sambel yang menyertai bebek-bebek itu juga berbeda lho…sambel koreknya bebek pak slamet paling cihuy, tapi kata teman saya, yang ribet ialah abis makan sambel pasti mulutnya bau bawang putih, jadi ngga enak kalo lagi jalan sama pacar bau bawang putih deh (hubungannya di koneksiin sendiri yah….tapi saya punya pendapat kalo temen saya itu lagi pacaran sama drakula yang takut sama bawang putih hehehee…..)

Anggap aja bebek peking, bebek surabaya dan bebek solo itu sebelum jadi masakan, gaulnya (habitatnya kata orang biologi) ya di peking, surabaya, dan solo. Bebek peking harganya jadi mahal karena masuk indonesia pake paspor, naik pesawat pula jadi dagingnya lebih putih dan kulitnya lebih tipis (mungkin disana bebek bulunya tebel jadi dibersihinnya gampang, tinggal kulit arinya aja deh…) trus bebek surabaya dengan kondisi alam surabaya yang panas dan gersang, nyari makannya jadi agak susah, dateng ke jakarta naik bis, jadinya bebek surabaya dagingnya penuh dengan otot dan lemaknya sedikit. sedangkan kalo bebek solo suasananya masih nyaman, nyari makannya juga masih gampang (lebih nrimo) dan lebih santai serta masih keturunan bangsawan bebek, dateng ke jakarta sama naik bis juga tapi lebih dekat perjalanannya, jadi dagingnya lebih empuk, lemaknya lebih banyak deh. Ngawur ya saya?

Pada intinya, dari ketiga jenis bebek yang sudah beredar di jakarta, kalau mau merasakan daging bebek empuk tanpa harus khawatir ada yang nyelip di gigi, mampir aja di Radio Dalam, Jakarta Selatan, kalo dari arah Blok. M, itu sederetan sama toko yang jual apple pie enak di sebelah kiri jalan. Habis makan ngga usah gosok gigi, biar malem tidurnya ngga diganggu sama drakula hihihihiiii….

Oh iya, bebek-bebek diatas jangan disamain sama bebek betutu yah….kalo bebek ini ngga bakalan enak dimakan diluar daerah kekuasaannya, alias makannya di Bali langsung sambil liburan getoo hehehehe…

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Hapitri adds:

sayangnya… sambal pak slamet yg saya cintai itu tidak bisa tersamai dengan cabangnya (ini kalo bener cabangnya lhoo) yg berada diradio dalam itu…

rasanya kurang pedas and kurang gurih untuk bisa menyamai rasa sambal korek ‘asli’…

tapi untuk para fans-nya pak slamet dan bebek gorengnya, rasanya lumayan lah untuk memenuhi rasa rindu… atau malah bikin tambah rindu ya?! :P

tapi jangan takut buat membawa teman2 lain yg mungkin tidak menyukai bebek, karena disana tersedia makanan lain… maaf, saya tidak memperhatikan apa saja isi makanan lain krn kami terlalu sibuk menghabiskan satu ekor bebek :D

Setelah makan bebek, jangan lupa untuk pergi ke Alpen Apple pie yang berada kira2 3 ruko disebelah bebek pak slamet…

Buat saya, mereka adalah salah satu apple pie terbaik di jakarta… kulitnya yg renyah tapi tidak gepur (atau hancur) saat digigit, isi applenya yg tidak menipu (penuh dan wangi cinnamon) dan rasanya yang tdk terlalu manis (bahkan teman saya yg tidak menyukai apple pie bisa menghabiskan yg mini size :P)

nah untuk sizenya… jangan tertipu, mini sizenya itu sekitar 4-5 kali ukuran fruit pie (yg ada dalam kotak2 makanan saat kenduri)… lumayan besar, bahkan bisa sharing dengan 2-3 orang teman.

harganya… dari Rp14rb – Rp.70rb… tidak boleh terlewatkan!!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.